Kabupaten Yahukimo

Website Resmi Pemerintah Kabupaten Yahukimo

Home : Potensi Umum » Sosial Budaya

Budaya Tradisional Lokal

Pembuatan Sagu
 
 
 
 
 
 

Kabupaten Yahukimo adalah kabupaten di wilayah Pegunungan Tengah yang kaya akan adat dan budaya. Hingga saat ini barbagai macam tradisi warisan leluhur masih terus di lestarikan.  Adat budaya ini bukan hanya sekedar sebuah kebiasaan, tapi merupakan tradisi yang memiliki nilai luhur dalam kehidupan individu, kehidupan bermasyarakat serta penyatuan diri dengan alam. Masyarakat Yahukimo, terutama yang tampak dalam kehidupan penduduk asli, tetap menjaga tradisi tersebut karena mempunyai makna khusus dalam kehidupan mereka. Hal inilah yang menjadi dasar tetap terpeliharanya berbagai tradisi di kehidupan masyarakat di Yahukimo. 

 

Rumah Tradisional

Honai merupakan sebutan bagi rumah tradisional di kabupaten ini. Honai  menjadi ciri khas  yang membedakan keunikan daerah ini dengan daerah lain di Indonesia. Walaupun di beberapa wilayah sudah banyak berdiri rumah-rumah modern, namun masih banyak juga penduduk yang menenpati Honai terutama penduduk yang tinggal di daerah pedalaman.

 

Honai terbuat dari kayu dengan atap yang terbuat dari jerami atau ilalang berbentuk kerucut. Honai mempunyai pintu kecil dan tidak berjendela. Bentuk Honai yang kecil dan tidak berjendela ini untuk menahan hawa pegunungan yang dingin. Honai dibangun dengan tinggi sekitar 2,5 meter. Di bagian tengah Honai disediakan tempat untuk membuat api unggun yang berguna untuk menghangatkan diri.

 

Membangun Honai adalah tugas seorang laki-laki. Honai dibedakan menjadi 3 jenis yaitu Honai untuk laki-laki yang disebut Palimo, Ebey, Honai untuk perempuan dan Honai untuk kandang babi disebut Wamai.

 

Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa di beberapa wilayah kabupaten ini, tempat tinggal sudah mengalami perubahan terutama dalam sisi bentuk fisiknya. Hal ini disebabkan oleh terajadinya akulturasi kebudayaan antara kebudayaan asli penduduk Yahukimo dengan budaya yang diperkenalkan oleh para pendatang, termasuk misionaris dan pihak pemerintah. Namun demikian, keberadan Honai ini tetap menjadi warisan budaya yang sangat unik.

 

Noken

Noken merupakan tas tradisional penduduk asli Papua, dan secara otomatis menjadi tas tradisional bagi penduduk Kabupaten Yahukimo. Sebagai tas tradisional, noken mempunyai keunikan yang melekat pada cara membawanya.

 

Cara membawa tas Noken yaitu dengan melingkarkan tali di dahi sehingga berat dibebankan ke kepala. Dengan posisi tersebut, bagian bawahnya menggelantung di punggung bahkan hingga pantat. Noken mempunyai fungsi yaitu untuk membawa berbagai macam barang bawaan seperti sayur-mayur, umbi-umbian, buah-buahan, kayu bakar, serta hasil perkebunan atau pertanian lainnya.

 

Bagi ibu-ibu yang mempunyai babi, Noken dapat juga digunakan untuk membawa anak babi. Bahkan, Noken kadang-kadang digunakan juga untuk membawa bayi mereka. Noken terbuat dari bahan dasar yang berasal dari akar-akaran. Akar-akaran tersebut kemudian dibuat benang dan kemudian dianyam menjadi tas keranjang. 

 

Belati Tulang

Belati yang terbuat dari tulang ini merupakan senjata tradisional yang berharga bagi budaya Papua bahkan budaya Indonesia. Selain memiliki nilai fungsional sebagai senjata, belati tulang juga memiliki unsur sejarah dan nilai seni yang tinggi. Tak heran jika benda ini harganya mahal ketika diperdagangkan.

 

Kapak Batu

Kapak batu adalah salah satu warisan budaya unik yang dimiliki sub suku di Kabupaten Yahukimo seperti Una Ukam yang berada di daerah Langda dan Bomela. Kapak batu ini terbuat dari batu sungai yang diambil dari sungai disekitar daerah tersebut.

 

Dalam pembuatannya, tidak semua orang boleh membuat kapak batu, hanya dari marga Deyal, Balyo, dan Malyo yang boleh membuatnya. Kapak batu memiliki nilai kultural yang sangat tinggi bagi masyarakat Langda dan Pegunungan Tengah. Kapak batu dapat digunakan sebagai mas kawin, dapat diberikan sebagai tanda penghormatan kepada orang-orang penting, dapat dipakai juga untuk tukar babi hingga tukar istri.

 

Papeda

Papeda merupakan ciri khas yang melekat pada kebudayaan masyarakat Kabupaten Yahukimo dan Papua dalam bentuk makanan tradisional. Selain menjadi bagian dari identitas masyarakat Yahukimo dan Papua, pada dasarnya papeda mempunyai fungsi utama yaitu sebagai makanan pokok. Papeda terbuat dari tepung sagu sebagai bahan utamanya.

 

Tepung sagu untuk membuat papeda ini biasanya dihasilkan oleh penduduk pedalaman dari pohon-pohon sagu disekitar mereka atau yang ada di dalam hutan. Cara membuatnya yaitu dengan memasak tepung sagu seperti membuat bubur, oleh karena itu papeda juga dikenal sebagai bubur sagu. Papeda biasanya dinikmati bersama dengan kuah kuning yaitu sayur yang bahannya dari ikan tongkol atau ikan mubara yang dibumbui kunyit dan jeruk nipis.

 

Babi

Babi merupakan harta yang mahal nilainya. Dalam masyarakat ini, jumlah babi yang dipelihara menentukan tinggi rendahnya status sosial. Semakin banyak kandang babi dan jumlah babi yang dimiliki maka orang tersebut dikatakan kaya atau memiliki status sosial yang lebih tinggi. Bagian taring pada umumnya digunakan oleh kaum pria sebagai assesories yang diprcaya memiliki nilai magis.

 

Babi memiliki peran yang istimewa bagi kehidupan sosial maupun perseorangan selain untuk dikonsumsi dagingnya. Dalam berbagai upacara dan acara adat, babi selalu diikutsertakan. Babi dapat dijadikan sebagai alat pemersatu dan mempererat hubungan keakraban antar suku. Babi juga dijadikan sebagai alat untuk menyatakan perdamaian antar kelompok orang yang saling berseturu. Selain itu babi juga dipergunakan sebagai mas kawin, dan juga sebagai alat pembayaran denda jika terjadi pelanggaran adat.

 

Babi ditempatkan dalam kandang yang disebut Wamai. Yang bertugas memelihara babi biasanya para istri. Karena babi merupakan hewan yang sangat berharga, kadang terlihat perlakuan lebih yang diberikan kaum ibu kepada babi.

 

Sagu

Bagi masyarakat di Kabupaten Yahukimo khususnya dan masyarakat Papua umumnya, sagu sudah menjadi bagaian dari kehidupan mereka sebagai budaya. Budaya sagu ini erat kaitanya dengan wilayah Papua yang merupakan lumbung bagi pohon sagu. Pohon sagu tersebar luas di seluruh wilayah Papua. Papua sendiri merupakan provinsi yang memiliki lahan sagu terbesar di Indonesia.  85 persen lahan sagu nasional ada di provinsi ini.

 

Bagi penduduk yang berada dipedalaman mendapatkan sagu dengan mencarinya di hutan. Yang bertugas mencari dan kemudian memasak sagu ini biasanya dilakukan oleh kaum perempuan karena dianggap tidak memerlukan tenaga fisik yang besar.

 

Sementara kaum wanita mencari sagu, kaum prianya berburu untuk mencari makanan yang dijadikan lauk untuk dimakan bersama sagu nantinya. Pohon sagu yang siap dan bagus untuk diambil saripatinya yaitu yang berumur antara 3 hingga 5 tahun.

 

Kegiatan mencari sagu ini juga dikenal dengan nama memangkur. Sebelum menebang pohon, pencari sagu memeriksa dahulu apakah pohon tersebut mengandung cukup sagu atau tidak. Cara untuk mengetahuinya yaitu dengan melubangi pohon sagu menggunakan kapak. Dari lubang tersebut para pencari sagu dapat mengetahui kandungan sagu dalam pohon, jika dirasa cukup mengandung sagu maka pohon tersebut akan ditebang. Sagu diperoleh dari pengolahan empulur pohon sagu untuk diambil saripatinya.

 

Empelur pohon sagu berada di bagian dalam batang pohon sagu. Empelur ini terlihat setelah batang pohon sagu dibelah. Empulur atau bagian tengah pohon sagu ini kemudian dipangkur menggunakan ames atau pangkur untuk memperoleh serpihan-serpihan kecil seperti parutan kelapa dalam ukuran yang lebih besar.

 

Untuk beberapa wilayah, sebagian masyarakat Yahukimo sudah menggunakan alat yang lebih modern untuk memperoleh serpihan-serpihan kecil ini. Mereka menggunakan alat seperti parutan kelapa untuk memarut empelur sagu yang sudah dibelah-belah. Selanjutnya serpihan-serpihan sagu tersebut di peras dengan menggunakan campuran air. Hasil perasan tersebut ditampung dalam sebuah wadah.

 

Tahap penampungan ini bertujuan untuk mengendapkan saripati sagu. Setelah beberapa jam, air perasan yang tadinya berwarna putih perlahan berubah menjadi bening di bagian atasnya dan terlihat endapan sagu di dasarnya. Setelah itu air tersebut dibuang hingga hanya tersisa endapan sagu. Sagu inilah yang kemudian siap diolah sebagai bahan makanan.  Satu pohon sagu yang bagus dapat menghasilkan sekitar 120 kg hingga 150 kg.

 

Saat ini, bagi sebagian keluarga mencari sagu bukan hanya untuk dikonsumsi sendiri. Mereka juga mencari sagu untuk di jual di pasar. Hasil penjualan sagu tersebut dapat digunakan untuk membeli keperluan mereka yang lain. (Sumber Buku Profil Kabupaten Yahukimo)