Kabupaten Yahukimo

Website Resmi Pemerintah Kabupaten Yahukimo

Home : Artikel » Yospan Tarian Pergaulan Yosim dan Pancar

Yospan Tarian Pergaulan Yosim dan Pancar

11th August 2011

Yospan adalah salah satu tarian pergaulan yang berasal dari dua daerah, yakni Biak dan Yapen-Waropen. Awalnya, yospan terdiri dari tarian pergaulan yosim dan pancar, dua tarian berbeda yang akhirnya dipadu menjadi satu.

Dalam pementasan yosim, yang berasal dari Yapen-Waropen, para penari juga mengajak serta warga lainnya untuk hanyut dalam lagu-lagu yang dibawakan kelompok penyanyi berikut pemegang perangkat musiknya.

Perangkat musik yang digunakan sangat sederhana, terdiri dari cuku lele dan gitar yang merupakan alat musik dari luar Papua. Juga ada alat yang berfungsi sebagai bas dengan tiga tali. Talinya biasa dibuat dari lintingan serat sejenis daun pandan yang banyak ditemui di hutan-hutan daerah pesisir Papua.

Selain itu, ada alat musik yang disebut kalabasa. Alat ini terbuat dari labu yang dikeringkan kemudian diisi dengan manik atau batu kecil. "Memainkannya cukup dengan menggoyang-goyangkan," tutur Mechu Imbiry, anggota grup Rio Grime yang berasal dari Waropen.

Berbeda dengan yosim, tarian pancar yang berasal dari Biak hanya diiringi tifa, yang merupakan alat musik tradisional semua suku bangsa pesisir di tanah Papua. Gerakannya pun tidak lincah dan banyak gaya seperti pada yosim. Gerakan penari pancar relatif lebih kaku karena mengikuti entakan pukulan tangan pemusik pada kulit tifa yang biasa dibuat dari kulit soa-soa (biawak).

Tarian pergaulan anak muda itu diadopsi dari nama pesawat pancar gas yang pernah melintas di angkasa Biak. Saking takjubnya masyarakat Biak dengan pesawat yang meninggalkan awan tebal dan meninggalkan garis putih pada lintasannya, maka tarian mereka pun kemudian diberi nama pancar.

Ketika kedua tarian pergaulan tersebut dipadukan menjadi yosim pancar atau yospan, tarian terkesan energik. "Yospan kemudian terkenal hingga ke tingkat nasional, terutama ketika Mayjen Wismoyo Arismunandar, sebagai Pangdam XVII/Trikora (1987-1989), menyosialisasikannya. Saat itu hampir di setiap kegiatan Kodam XVII/Trikora diisi dengan yospan. Hal tersebut kemudian menular ke hampir semua instansi pusat yang ada di Jayapura (dulu kantor wilayah). Ini juga ternyata membuat komunikasi masyarakat Papua dengan pendatang menjadi positif," kata Nyong Suwages anak Bagai Serwar, Sarmi.

Di masa Wismoyo memegang komando itu, pihak TNI Angkatan Darat juga cukup memengaruhi isi lagu-lagu pengiring yospan yang diciptakan para seniman Papua. Karena itu, tak perlu heran jika syair-syair lagu-lagu yospan tidak sekadar bercerita tentang kisah kasih dua anak manusia Papua, tetapi juga berisikan pemujaan terhadap negara Indonesia . (Sumber : http://www.prakarsa-rakyat.org/)